Showing posts with label berlibur. Show all posts
Showing posts with label berlibur. Show all posts

Monday, November 18, 2019

5 Lokasi Romantis Nikmati Bandung ala Dilan-Milea

Dilan 1991

Bandung mah sekarang menyenangkan ya, karena ada kamu."

Begitu cuplikan dialog Iqbaal Ramadhan yang berperan sebagai Dilan di film Dilan 1991 yang baru saja diluncurkan pada tanggal 28 Februari 2019.

Tak hanya dialog itu, banyak gombalan Dilan kepada Milea sepanjang alur cerita yang membuat Film Dilan 1990 dan Dilan 1991 kian digandrungi para penonton Indonesia bahkan mancanegara.

Tak hanya soal asmara Dilan dan Milea, film garapan Fajar Bustomi yang terinspirasi dari buku karangan Pidi Baiq ini mengajak penontonnya berkeliling di berbagai lokasi menarik di Kota Bandung. Alhasil lewat film ini, Bandung punya citra baru, romantis.

Maka, tak salah jika pada akhrnya Gubernur Jawa Barat membuka sebuah taman di salah satu sudut Kota Bandung bernama Pojok Dilan. Lokasinya di GOR Saparua, tak jauh dari Kantor Panas Dalam.

Selain mengunjungi Pojok Dilan, Anda dapat menunjungi beberapa lokasi lain untuk menikmati Bandung layaknya Dilan dan Milea. Penasaran? Berikut Kompas.com merangkumnya untuk Anda.

Pada Film Dilan 1991, Dilan sempat mengajak Milea menuju sebuah dataran tinggi untuk melihat gemerlap lampu Kota Bandung. Suasana malam dalam adegan tersebut serasa begitu romantis.

Meski tak dijelaskan secara lugas dimana lokasinya, Bandung memiliki beragam tempat untuk menikmati malam sambil menyaksikan pemandangan indah lampu kota. Yang paling populer adalah Caringin Tilu atau Cartil dan Puncak Bintang.

Sesuai namanya, ada tiga pohon beringin yang tumbuh di kawasan Caringin Tilu yang kabarnya ditanam langsung oleh Presiden Soekarno. Caringin Tilu ini berada di kawasan Bandung Utara, tepatnya di Jalan Terusan Padasuka, Desa Cimenyan, Bandung, Jawa Barat.

Di sana terdapat banyak restoran dan saung yang dapat dikunjungi untuk menikmati makan malam ditemani pemandangan indah Kota Bandung.

Tak jauh dari Caingin Tilu, ada Puncak Bintang yang juga dapat dikunjungi untuk menikmati pemandangan indah Bandung di waktu malam. Di tempat ini Anda juga akan menemukan banyak spot menarik untuk berfoto bersama teman atau orang terkasih.

Sunday, November 17, 2019

Ribuan Warga Kota Kupang Hadiri Festival Sarung dan Musik NTT

Ribuan warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadiri Festival Sarung dan Musik NTT, Sabtu (2/3/2019) pagi


- Lebih dari 1.000 warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadiri Festival Sarung dan Musik NTT, Sabtu (2/3/2019) pagi. Acara itu berlangsung di halaman Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT.

Para peserta mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mengenakan baju putih dan kain tenun dari berbagai kabupaten di NTT. Acara itu diisi dengan tarian festival sarung tenun ikat dan fashion show.

Hadir dalam acara itu, sejumlah pejabat di provinsi NTT dan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi.

Pemrakarsa yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, mengatakan kegiatan ini tujuannya untuk lebih memperkenalkan warisan budaya NTT.

Menurut Julie, tenun ikat yang ditampilkan dalam acara itu, adalah hasil kreasi perempuan di seluruh pelosok Flobamora, yakni Pulau Flores, Sumba, dan Timor.

Menurut Julie, pihaknya ingin mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya penenun. Juga untuk membangkitkan kebanggaan di kalangan generasi muda dan kaum milenial terhadap kain sarung NTT.

Festival yang digelar di ajang bebas kendaraan (CFD) mulai pukul 06.00 - 10.00 Wita ini akan diikuti sekitar 10.000 peserta.

Yang unik dari acara ini, peserta diwajibkan berbusana kaus putih dan sarung bahan tenun ikat asli NTT. Yang datang tanpa sarung tenuh ikat asli NTT saya tolak, kata Julie.

Selain musik dan tarian, festival ini juga menampilkan makanan-makanan khas yang berbahan dasar kelor. Julie berharap festival itu dapat menjadi ajang tahunan yang dapat menjadi daya tarik pariwisata daerah.

Kita juga akan mendorong penetapan Hari Sarung Nasional. Sarung yang merupakan warisan kekayaan leluhur mesti dilestarikan serta layak disejajarkan dengan batik sebagai busana nasional. Dengan itu, geliat perekonomian para penenun juga akan semakin meningkat, katanya.

Saturday, November 16, 2019

Legenda Raja Terakhir Majapahit di Pantai Ngobaran, Gunungkidul

Pantai Ngobaran, Gunungkidul, Yogyakarta.

Pantai Ngobaran saat ini merupakan salah satu obyek wisatainstagramable di Yogyakarta. Hal itu karena nuansa Pulau Bali yang begitu kental di sana dengan adanya pura dan arca.

Pada akhir pekan, pantai ini hampir selalu dikunjungi banyak wisatawan. Kebanyakan di antara mereka ingin berfoto dengan latar belakang arsitektur khas Pulau Dewata itu.

Tidak hanya wisatawan biasa, Pantai Ngobaran pun merupakan spot favorit para fotografer untuk hunting foto. Dengan komposisi yang pas, hasil jepretan di pantai ini akan begitu unik dan indah.

Namun Pantai Ngobaran ternyata tidak hanya menyimpan keindahan dan keunikan semata. Ada legenda yang menjadi latar belakang penamaan Ngobaran pada pantai ini. Konon legenda Pantai Ngobaran ini berhubungan dengan Raja Terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V.

Dahulu kisah legenda Prabu Brawijaya V dituliskan di sebuah papan yang ada di Pantai Ngobaran. Namun saat Kompas.com berkunjung kembali Hari Sabtu (02/02/2019) silam, papan legenda itu sudah tidak ada.

Akan tetapi legenda tentang Pantai Ngobaran masih bisa didapatkan dari masyarakat sekitar yang sudah lama tinggal di sana.

Dikisahkan Prabu Brawijaya V adakah keturunan terakhir Raja Majapahit (1464-1478 masehi) yang melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya bernama Bondan Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua).

Konon kepergian Sang Prabu adalah untuk menghindari konflik dengan putranya sendiri yang merupakan raja pertama Demak, Raden Patah. Prabu Brawijaya V dan dua istrinya mengembara di daerah pedalaman dan pesisir.

Setibanya di pantai yang saat ini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu. Laut selatan yang ombaknya ganas membuat mereka tidak tahu lagi harus ke mana. Akhirnya Sang Prabu pun memutuskan untuk melakukan bakar diri.

Sebelum masuk ke dalam kobaran api yang sudah disiapkan, terlebih dahulu Prabu Brawijaya V menanyakan sesuatu kepada kedua istrinya.

Wahai para istriku. Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya padaku, tanya Sang Prabu.

Dewi Lowati pun menjawab jika cintanya kepada Sang Prabu adalah sebesar gunung. Sementara itu, Bondan Surati memberikan jawaban yang berbeda.

Cinta saya kepada Tuan Prabu Brawijaya V sama seperti kuku hitam. Setiap selesai dipotong pasti akan tumbuh kembali, Jawab Bondan Surati kepada suaminya. Jawaban itu bermakna, jika cinta itu hilang, maka akan tumbuh lagi.

Setelah mengetahui jawaban kedua istrinya, Sang Prabu kemudian menarik tangan Dewi Lowati kemudian masuk ke dalam kobaran api itu. Keduanya pun meninggal dalam kobaran api.

Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati karena menganggap cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan istri pertamanya. Peristiwa bakar dirir inilah yang menjadi asal penamaan Ngobaran dari kata kobaran.

Itulah legenda penamaan Ngobaran di pantai ini. Meski demikian, kebenaran kisah legenda ini masih diragukan karena diyakini Prabu Brawijaya V mokswa (meninggal dengan jasad yang turut menghilang) di Gunung Lawu.

Jaringan Jambuluwuk Hotel Bakal Hadirkan Hotel Butik di Jakarta

Suasana ruang tamu villa Jambuluwuk Convention Hall & Resorts Puncak, Jawa Barat.

- Jaringan hotel Jambuluwuk Hotel & Resorts berencana menghadirkan properti baru berkonsep hotel butik di pusat Kota Jakarta pada pertengahan tahun 2019. Hadirnya hotel butik menandakan Jambuluwuk Hotel & Resorts mulai memasuki pasar baru.

"Next project Jambuluwuk mudah-mudahan pertengahan tahun ini mudah-mudahan selesai, lebih ke butik hotel plus digabung dengan guest house. Konsepnya lebih ke modern Betawi," kata Corporate Marketing Communications Manager Jambuluwuk Hotel & Resorts, Martha W. Thomas saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hotel butik dari Jambuluwuk Hotel & Resorts nantinya berlokasi di Jalan Riau. Martha mengatakan hadirnya jaringan transportasi Lintas Rel Terpadu (LRT) menjadi salah satu alasan hadirnya hotel butik oleh Jambuluwuk Hotel & Resorts.

"Kalau LRT jadi, itu yang jadi patokan kenapa kami buka di sana. Orang kan berbisnis kan pilih yang dekat LRT," lanjutnya.

Ia melanjutkan, pilihan hotel butik juga didasari karena lokasi. Martha menyebut lokasi Jakarta tak memungkinkan untuk membuat resort atau hotel bintang 4.

"Kami merasa lebih ke homey sih kalau butik itu kan nyaman, berasa tinggal di rumah. Jadi kami buat orang-orang senyaman mungkin tinggal, ada kolam renangnya. Kan gak semua butik hotel punya kolam renang, kami punya. Ada fasilitas nge-gym," jelasnya.

Martha menyebut hotel butik di Jakarta tersebut merupakan pilot project dari Jambuluwuk Hotel & Resorts. Jambuluwuk menargetkan pengunjung dari segmen bisnis.

"Target marketnya lebih ke bisnis hotel ya jatuhnya. Karena memang posisinya di tengah kota, kalau untuk leisure kayanya jarang. Mungkin bisa jadi patokannya backpacker. Harga kami bersaing juga dengan hotel-hotel melati," tambah Martha.

Rencananya hotel butik dari Jambuluwuk Hotel & Resorts berdiri di atas lahan seluas kurang lebih satu hektar. Fasilitas hotel butik selain kamar, akan ada restoran dan dua meeting room.

Jambuluwuk Hotels and Resorts adalah jaringan hotel merek nasional yang sudah hadir di beberapa daerah. Jambuluwuk Hotels and Resorts saat ini mengoperasikan lima properti di Indonesia Jambuluwuk Convention Hall and Resort Batu - Malang, Jawa Timur, Jambuluwuk Convention Hall and Resort Puncak - Bogor, Jawa Barat.

Ada pula Jambuluwuk Oceano Resort - Gili Trawangan, Jambuluwuk Malioboro Hotel - Yogyakarta dan Jambuluwuk Oceano Seminyak Hotel - Bali dengan rencana untuk menyambut properti lainnya di Jakarta, Bandung, Garut, Mandalika, Labuan Bajo dan Danau Toba.

Cap Go Meh, 12 Replika Naga Siap Dipamerkan di Singkawang

Kemeriahan Pawai Lampion dalam rangkaian puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2569 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Rabu (28/2/2018).

Sebanyak 12 replika Naga Bulan buatan Santo Yosep Singkawang Group siap dipamerkan ke masyarakat luas dalam rangka memeriahkan perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang tahun 2019.

"Saat ini pembuatan 12 replika Naga Bulan sudah rampung atau mencapai 100 persen," kata Ketua pembuatan 12 reflika Naga Bulan, Bong Sin Fo, di Singkawang, Kalimantan Barat, Senin (28/1/2019).

Dia mengatakan, pihaknya sudah memindahkan satu persatu naga dari gudang penyimpanan ke tenda yang akan dijadikan stand Naga Bulan tepatnya di Jalan Alianyang (samping Singkawang Grand Mall).

Setelah semuanya di pindah, barulah akan disusun agar kelihatan bagus dan rapi. Sesuai jadwal, ke-12 replika Naga Bulan ini akan mulai dipamerkan pada H-3 atau H-4 perayaan Imlek.

"Mudah-mudahan pada saat itu, semuanya sudah rapi disusun," ujarnya.

Ditampilkannya sebanyak 12 replika Naga Bulan pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh di tahun ini, hanya semata-mata bertujuan untuk memeriahkan Kota Singkawang dan mendukung Pemkot yang ingin menjadikan Singkawang sebagai salah satu destinasi wisata, khususnya melalui wisata budaya.

"Kita tahu bahwa setiap perayaan Cap Go Meh, tatung-tatung begitu mendominasi, namun dengan ditampilkannya replika naga dalam jumlah yang banyak (12 ekor) tentu akan menjadi daya tarik tersendiri dan juga menjadikan festival CGM lebih bervariasi lagi," ujarnya.

Disinggung mengenai target Rekor Muri, Bong Sin Fo mengatakan, jika Rekor Muri sebagai pembuat naga terbanyak sudah ada di tangan pihak Santo Yosep Singkawang Group pada tahun 2018.

"Tahun kemarin kita sudah menampilkan sebanyak 9 replika naga, dan tahun ini bertambah menjadi 12 naga," ungkapnya.

Sesuai kesepakatan, lanjut Bong Sin Fo, nanti pada pawai lampion yang akan digelar pada 17 Februari 2019 salah satu replika naga ini akan dimainkan di panggung kehormatan berdampingan dengan Killin dan Barongsai.

"Artinya, untuk pembukaan satu naga, setelah itu saat 12 replika naga ini melewati panggung kehormatan juga akan dimainkan, namun tidak seatraktif seperti satu naga yang ditunjuk untuk beratraksi," jelasnya.

Secara terpisah, Koordinator Seksi Hubungan Masyarakat Panitia Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Budiman mengatakan, persiapan perayaan Imlek dan Cap Go Meh sudah mendekati 100 persen. "Sampai saat ini kita belum menemukan suatu hambatan yang berarti," katanya.

Dia memastikan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini tak kalah meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Bahkan tahun ini dirasakan adanya eskalasi atau kuantitas dengan penampilan replika naga yang mana pada tahun 2018 kita ada 9 replika naga. Itu sudah memberikan kontribusi daya tarik yang cukup signifikan," ujarnya.
Apalagi di tahun ini berkembang menjadi 12 naga. Budiman berharap kehadiran reflika sebanyak ini bisa menjadi daya tarik yang cukup mendapatkan perhatian masyarakat luas.

Friday, November 15, 2019

5 Obyek Wisata "Tersembunyi" di Bekasi

Masyarakat menyaksikan parade aparatur pemerintahan Kota Bekasi, Minggu (10/3/2019).

Siapa yang tak kenal Bekasi? Kota yang disebut juga Kota Patriot ini terkenal sebagai daerah metropolis bercuaca relatif panas karena kurang tersedianya lahan terbuka hijau.

Sebagai salah satu wilayah penyangga Ibu Kota, Bekasi kerap dilalui pengguna kendaraan bermotor untuk pulang-pergi ke tempat kerja. Sejumlah bus juga sering terlihat berlalu-lalang sebagai moda transportasi pilihan warga setempat.

Di balik itu, Bekasi tetap memiliki obyek wisata yang barangkali luput oleh para calon wisatawan. Berikut ini obyek wisata tersembunyi yang ada di wilayah Bekasi:

Situ Cibeureum merupakan danau alami yang terletak wilayah administratif Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi.

Di sini, pengunjung bisa melakukan banyak hal seperti bersepeda, memancing, atau sekadar berjalan-jalan menikmati keindahan danau cekung seluas 2 hektar tersebut.

Di bagian tengah danau, terdapat gundukan tanah yang ditumbuhi sebuah pohon sehingga terlihat menyerupai pulau kecil di antara hamparan air tawar.

Pengunjung disuguhkan beberapa saung bermaterial bambu untuk menyantap hidangan yang dijual di sekitar danau. Toilet umum, kios souvenir, dan lahan parkir juga disediakan untuk pengunjung yang ingin berlama-lama di sini.

Curug ini berada di perbatasan Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor, tepatnya di Jalan Pangkalan 5, Kampung Parigi, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Jika ingin mengunjungi curug ini, disarankan menggunakan kendaraan roda dua kalau ingin cepat sampai. Lantaran, lalu-lintas menuju curug bisa dibilang cukup padat.

Biaya masuk mobil berkisar Rp 10.000, motor Rp 5.000, dan sepeda Rp 2.000. Sementara per orang dikenai biaya Rp 5.000.

Air terjun di sini cukup deras, tetapi relatif dangkal sehingga pengunjung bisa bermain air di sana. Namun, tetap utamakan keselamatan.

Melihat Wujud Asli Rumah Limas seperti di Uang Rp 10.000

Rumah Limas yang terletak di pekarangan belakang Museum Balaputera Dewa, Palembang, Sumatera Selatan.

Gambaran Rumah Limas akan Anda temui di uang pecahan Rp
10.000 terbitan lama. Namun tahukah Anda, wujud asli Rumah Limas itu berada di halaman belakang Museum Balaputera Dewa, Palembang, Sumatera Selatan?

Museum Balaputera Dewa terletak di daerah Sukaramai, Jalan Sriwijaya I Kilometer 5,5 nomor 288, Alang Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Hanya dengan membayar Rp 2.000 per orang, Anda sudah dapat berwisata sejarah ditemani seorang pemandu wisata (guide) yang mengerti betul seluk beluk koleksi museum, termasuk Rumah Limas.

Anda harus melalui ruang-ruang pameran koleksi museum untuk menuju Rumah Limas. Sesampainya di halaman belakang, Anda akan menemui wujud asli Rumah Limas yang masih dipertahankan keasliannya.

Jika Anda berdiri di dekat pintu keluar ruang pameran koleksi museum, Anda akan menemukan sudut pandang Rumah Limas yang persis dengan yang tergambar di uang pecahan Rp 10.000.

Lokasi ini kerap kali digunakan sebagai spot foto yang menarik bagi para pengunjung.

Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Provinsi Sumatera Selatan. Sesuai namanya, rumah adat ini berbentuk limas.

Rumah Limas terdiri dari bangunan yang bertingkat-tingkat dengan filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya yang kerap disebut masyarakat sekitar sebagai bengkilas.

Rumah Limas berbentuk rumah panggung. Rumah panggung dipilih karena pada zaman dahulu masyarakat mendirikan rumah ini di atas rawa-rawa, sehingga rumah panggung dapat menghindarkan penghuninya dari air rawa dan binatang-binatang rawa.

Untuk memasuki Rumah Limas Anda harus melepas alas kaki Anda untuk menjaga
kebersihan Rumah Limas.

Ketika masuk, Rumah Limas akan terlihat sangat luas. Bahan material dalam membuat dinding, lantai, serta pintu menggunakan kayu tembesu. Sementara untuk tiang rumah, pada umumnya menggunakan kayu unglen yang tahan air.

Yang menarik, ketika Anda memasuki rumah, Anda akan dapat langsung melihat sebuah piano tua berbahan kayu yang masih dapat dimainkan. Kemudian di sekelilingnya berbagai perabotan berusia tampak terpajang dengan rapi.

Memasuki rumah ini Anda juga akan dapat membayangkan aktivitas penghuni rumah di masa lampau.

Di sudut ruangan terdapat mesin tenun manual yang biasa digunakan penghuni rumah menenun kain tenun khas Sumatera Selatan. Kemudian Anda juga dapat melihat secara langsung dapur dengan berbagai perkakas kunonya.

Berkeliling Rumah Limas di Museum Balaputera Dewa memang sangat menarik. Namun Anda tak dapat sembarangan menyentuh barang-barang yang ada di dalamnya. Jadi lebih baik bertanyalah kepada Guide untuk memastikan barang mana yang boleh dan tidak boleh disentuh.

Mengunjungi Embung Tertinggi di Gunungkidul

Embung Batara Sriten, Pilangrejo, Nglipar, di Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Embung Batara Sriten di Padukuhan Sriten, Desa Pilangrejo, Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, terus dikembangkan menjadi 'pesaing' wisata pantai di kawasan selatan.

Dengan pengembangan yang terus dilakukan diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke wilayah utara kabupaten terluas di DIY itu.

Mengunjungi Embung Batara Sriten, pengunjung dari arah Yogyakarta menuju ke arah Kantor Kecamatan Nglipar. Sebelum sampai ke kantor ada pertigaan ke kiri ambil ke arah Desa Pilangrejo.

Sampai di Kantor desa, ambil arah kiri naik ke atas. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul baru saja selesai membangun jalan menuju embung yang diresmikan tahun 2015 lalu.

Namun demikian dengan tanjakan yang cukup curam, disarankan tidak menggunakan motor matic. Sebab, jika tidak menguasai medan berbahaya karena turunannya tajam. Selain itu, meski jalan yang baru saja selesai ini terbuat dari cor, tetapi belum ada pengaman di kanan dan kirinya.

Dengan membayar tiket retribusi sebesar Rp 5.000 per orang. Mengunjungi Embung batara sriten terbayar lunas dengan pemandangan yang ada. Terletak pada ketinggian sekitar 859 mdpl suasana sejuk bisa pengunjung rasakan.

Pemandangan alam dari atas Embung Batara Sriten ini cukup indah, bisa melihat Rawa Jombor dan Waduk Gajahmungkur, Jawa Tengah, saat berada di sisi utara. Di sisi selatan bisa melihat hamparan hijau wilayah Gunungkidul.

Selain itu posisinya yang berada di atas bukit menambah suasana romantis. Sebab, saat menikmati embung saat siang hari muncul kabut.

"Embung Batara Sriten sebenarnya untuk pengairan kebun buah, namun dikembangkan pula untuk pariwisata," kata Kepala Desa Pilangrejo, Sunaryo ditemui usai peresmian di Kantor Balai Desa Pilangrejo, Selasa (5/3/2019).

Saat di puncak tak perlu takut jika tidak membawa bekal, karena di sana masyarakat sudah menjual berbagai makanan dan minuman.

Selain itu, ada minuman khas desa setempat yakni Dawet Garut khas Desa Pilangrejo. "Untuk akhir pekan sudah banyak pengunjung setelah dilakukan perbaikan jalan kemarin," ucapnya.

Menurut Sunaryo, selama ini meski promosi telah gencar dilakukan oleh pemerintah desa dan kabuaten atas potensi yang dimiliki Embung Batara Sriten, namun pengunjung memang belum begitu banyak. Atas pembangunan jalan ini diharapkan pengunjung jauh lebih meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.

Menggeliatnya pariwisata ini diyakini akan berdampak pada sektor perekonomian masyarakat yang juga lebih meningkat.

"Selain memudahkan akses wisata, juga untuk masyarakat di atas ada tiga pedukuhan yakni Sriten, dan Ngangkruk meningkat pesat, harga jual. Karena di sana di Sriten ada 106 KK, dan Ngangkruk ada 98 KK," ucapnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Edy Praptono menambahkan, pembangunan jalan ke puncak Pegunungan Baturagung Utara, Embung Batara Sriten menjadi telaga buatan tertinggi di Gunungkidul.

Thursday, November 14, 2019

Sejarah Hotel Kapsul, Berawal dari Jepang, Kini Ada di Indonesia

ILUSTRASI - hotel kapsul

Hotel kapsul saat ini dikenal sebagai akomodasi murah andalan wisatawan backpacker. Uniknya jika ditilik dari latar belakang hotel kapsul, sebenarnya tidak ditujukan untuk wisatawan backpacker.

Dilansir dari Archdaily, hotel kapsul pertama kali hadir pada 1972 di Tokyo dengan nama Nagakin Capsule Tower, terdiri dari 14 lantai dan 140 kamar kapsul. Perancang hotel ini adalah arsitek legendaris Jepang, Kisho Kurokawa. Ia merancang hotel kapsul karena melihat peluang yang ada dari budaya kerja di Jepang.

Orang Jepang terkenal memiliki dedikasi serta tuntutan kerja yang tinggi. Sehingga membuat para pekerja sering lembur. Terkadang sehabis bekerja, mereka juga menghabiskan waktu untuk minum bersama di Izakaya (semacam bar minum dengan sajian camilan).

Ketika sisa hari semakin singkat dan harus masuk kerja kembali keesokan pagi, para pekerja ini kesulitan untuk kembali ke rumah. Selain jadwal kereta yang terbatas pilihan transportasi lain seperti taksi di Jepang sangat mahal.

Alhasil, jadilah hotel kapsul pilihan untuk beristirahat beberapa jam dan membersihkan diri agar kembali siap bekerja keesokan hari.

Pada awal kemunculan Nagakin Capsule Tower tidak sesempit saat ini. Barulah pada 1979 kapsul hotel seperti ukuran saat ini diluncurkan di Osaka.

Pada perkembangannya hotel kapsul di Jepang ternyata digemari oleh wisatawan backpacker, khususnya wisatawan mancanegara. Untuk itu operator hotel kapsul di Jepang mulai menempelkan instruksi dan peraturan bertuliskan Bahasa Inggris.

Dari Jepang, konsep hotel kapsul juga diadaptasi oleh negara lain di Asia sampai Eropa. Tak melulu kapsul-kapsul ini memiliki bentuk yang sama. Banyak operator hotel berkreasi dengan bentuk hotel kapsul sendiri.

Seperti di Kyoto ada hotel kapsul dengan desain warna monokrom, di Kuala Lumpur ada hotel kapsul bergaya industrial, atau di Rio de Janeiro hotel kapsul bergaya seni jalanan.

Di Indonesia sendiri hotel kapsul pertama kali hadir pada 2017. Kini hotel kapsul di Indonesia kian dikenal dan dijadikan andalan untuk akomodasi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wednesday, November 13, 2019

Pasar Bolu dan Transaksi Jual Beli Kerbau di Toraja

Pasar Bolu, Rantepao

Bagi warga Toraja, kerbau bukanlah sembarang hewan. Selain menjadi simbol status kesejahteraan, kerbau juga diamini sebagai hewan tunggangan arwah menuju Nirwana. Kerbau selalu menjadi persembahan untuk berbagai upacara adat, termasuk rambu solo yang merupakan upacara pemakaman.

Tak heran, di Toraja, kerbau memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Satu tempat untuk menemukan transaksi jual beli hewan ini adalah Pasar Bolu yang terletak di Rantepao, Sulawesi Selatan.

Tidak setiap hari pasar kerbau digelar. Pasar ini digelar enam hari sekali. Puluhan, bahkan ratusan penjual dan pembeli tumpah ruah di sebuah lapangan luas. Kerbau yang dijual punya beragam ukuran, warna, ukuran tanduk, hingga warna mata.

Kerbau paling mahal yang dijual di sini adalah kerbau belang, disebut Tedong Bonga, tutur Pak Yatim, pemandu wisata OPPO Discovery Trip saat berkunjung ke Pasar Bolu beberapa waktu lalu.

Dari kejauhan, tampak seekor kerbau berukuran besar yang dideskripsikan Pak Yatim sebagai Tedong Bonga. Hampir seluruh tubuhnya berwarna merah muda, hanya ada satu bagian di belakang tanduknya yang berwarna hitam.

Berapa harga kerbau ini pak? tanya saya kepada penjual.

Tiga ratus (juta), jawabnya.

Satu hal yang pasti dalam transaksi jual beli di Pasar Bolu adalah sistem pembayaran. Pembeli tidak menggunakan kartu debit, atau kredit, atau sejenisnya. Jika ingin membeli kerbau, Anda harus membawa uang tunai. Pembayaran berlaku bagi kerbau dengan harga puluhan juta sampai Rp 1 miliar sekalipun.

Itulah kenapa orang Toraja tidak terlihat kaya. Padahal dia punya kerbau banyak, Pak Yatim menjelaskan.

Selain kerbau, Pasar Bolu juga menjadi tempat jual beli babi. Jika orang Toraja tidak mampu untuk membeli kerbau, hewan persembahan bisa diganti dengan babi. Harga babi pun tidak semahal hewan tandingannya tersebut.

Babi kecil harganya mungkin sekitar Rp 3 juta. Babi besar sekitar Rp 6-8 juta, tutur Pak Yatim.

Tuesday, November 12, 2019

Diminati Wisatawan, Tenun Ikat Bukukan Nilai Transaksi Tertinggi di Festival Sandalwood

Expo Tenun Ikat di Festival Sandalwood 2019 yang diselenggarakan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/7/2019)

Festival Sandalwood 2019 berhasil menarik minat wisatawan dengan beragam keunikan yang dimiliki. Festival yang diselenggarakan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menawarkan Parade Kuda Sandel dan Expo Tenun Ikat Sumba sebagai daya tarik utama.

Wisatawan sangat tertarik dengan konten-konten yang ditampilkan Festival Sandalwood, seperti expo tenun yang menampilkan seluruh motif di Sumba Timur," terang Kepala Dinas Pariwisata Sumba Timur Umbu Maramba Meha diWaingapu.

Menurut dia, kain tenun diminati karena memiliki motif eksotis serta proses pembuatannya masih tradisional. Corak tenun yang ditampilkan dalam expo di antaranya Kambera, Kanantang, Kaliuda, Rindi dan Umalulu.

Motif Kambera memiliki 18 corak dan Rindi 11 motif. Sementara itu, Umalulu memiliki 8 corak dan 3 motif yang masing-masing dimiliki Kaliuda juga Kanatang.

:Ribuan Tenun Sumba di Tangan Kolektor Asing

Karena sangat diminati wisatawan, tak heran pada festival yang ditutup, Jumat (12/7/2019) lalu itu, berhasil mencatatkan nilai transaksi sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta dari 2 hari penyelenggaraan Expo.

Dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (15/7/2019) dijelaskan, transaksi tertinggi diraih oleh kain tenun Kanantang yang dijual Rp 50 juta per lembar. Kain tenun berusia 50 tahun ini memiliki warna dasar biru dengan ukuran sekitar 1,5 x 3,5 meter.

Harga tenun ikat Sumba sendiri sangat beragam. Umumnya perlembar kain dibanderol mulai dari Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta. Namun, ada juga yang dijual dengan harga Rp 300.000.

Tidak hanya tenun, secara keseluruhan Festival Sandalwood 2019 mampu berkontribusi optimal terhadap perekonomian masyarakat dan para pelaku bisnis di Sumba Timur.

Menurut Staf Khusus Menteri Parariwisata (Menpar) Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, semua sektor di Sumba Timur menikmati dampak positif dari festival yang masuk dalam Calendar of Event 2019 Kementerian Pariwisata ( Kemenpar).

"Artinya, mereka mendapatkan manfaat secara ekonomi melalui agenda tersebut. Pergerakannya tentu akan terus berlanjut. Event tersebut mampu mengangkat Sumba Timur dan Pulau Sumba, ungkap Don Kordono, Minggu (14/7/2019).

Selain tenun, menurut Ketua Tim Pelaksana Calendar of Events (CoE) Kemenpar Esthy Reko Astuty, wisata belanja dan kuliner turut berkontribusi menorehkan capaian positif.

"Industri kreatif tenun memang besar. Namun, wisatawan juga menikmati beragam wisata belanja. Selain tenun, ada kuliner dan ini jumlahnya pasti maksimal," ujar Esthy.

:Kagum dengan Tenun Khas NTT, Dosen Asal Australia Belajar Menenun

Hal itu terbukti dari spending wisatawan yang cukup besar. Esthy menjelaskan, wisatawan mancanegara (wisman) memiliki kemampuan spending sebesar 1.240,22 dollar Amerika Serikat (AS) dan wisatawan nusantara (wisnus) Rp 800.000.

Mengintip Hotel Berbentuk Sarang Madu Raksasa di China

Hotel berdesain sarang madu di China timur

- Wisatawan domestik maupun mancanegara biasa menggunakan hotel sebagai pilihan tempat penginapan ketika mengunjungi suatu daerah wisata tertentu. Karenanya, pihak hotel kerap memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik agar wisatawan nyaman.

Selain itu, untuk membuat pengunjung atau wisatawan berkesan, pengelola hotel juga sering membuat inovasi baru dalam hal arsitektur hotel.

Tak terkecuali bagi sebuah hotel di kawasan Nnjing, ibu kota Provinsi Jiangsu di China timur. Di sana terdapat sebuah hotel baru dengan nama Nanjing Honeycomb Hotel yang dibangun oleh Shanghai Baoye Group.

Hotel tersebut dijuluki sebagai " honeycomb hotel" karena inspirasi desainnya berasal dari madu, kudapan khas daerah ini.

Dengan lebih dari 500 kamar, hotel ini telah dibangun di sebuah tambang dan di samping tebing di daerah pegunungan Laoshan. Jadi selain menginap, pengunjung bisa melakukan olahraga panjat tebing dan wahana rollercoaster yang nantinya menjadi bagian dari taman bertema Dragon Valley.

Hotel ini memiliki dua bangunan. Bangunan pertama memiliki 12 lantai, dan bangunan kedua memiliki 20 lantai dengan podium tiga lantai yang terhubung. Hotel juga dilengkapi hiasan kepala singa raksasa dengan tinggi 30 meter yang dipatahat di sebuah batu besar. Pahatan singa ini dibuat oleh 100 orang dalam waktu enam bulan.

Sementara itu, kota Nnjing yang terletak di bagian bawah Sungai Yangtze menawarkan warisan sejarah yang kaya dan mengesankan. Kota itu merupakan kota terbersih dan mendapat raihan best-looking cities di China.

Untuk bisa menginap di hotel sarang lebah ini, pengunjung musti bersabar karena baru buka sekitar akhir tahun ini.

Monday, November 11, 2019

Catat! Promo Pilpres 2019 di Gerai Makanan dan Minuman (1)

Ilustrasi diskon

Pesta demokrasi lima tahunan akan digelar melalui Pemilihan Umum (Pilpres) pada 17 April 2019. Pada tanggal tersebut seluruh masyarakat Indonesia akan diberi kesempatan memilih presiden, wakil presiden, anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten atau Kota, dan anggta DPD.

Untuk membuat pesta demokasi ini semakin meriah, beberapa gerai makanan dan minuman menawarkan discount atau potongan harga bagi pelanggannya yang menggunakan hak pilihnya.

Berikut daftar gerai makanan dan minuman yang mengadakan promo Pei.

Holland Bakery menawarkan potongan harga 20 persen untuk semua produk yang di jual di gerai-gerai di seluruh Indonesia. Pelanggan cukup menunjukkan jari bertinta kepada kasir, kemudian harga produk akan dipotong.

Promo ini hanya berlakupada tanggal 17 April 2019 saja dan tidak dapat digabung dengan promosi lainnya. Promo juga tidak berlaku untuk pembelian produk Holland Bakery melalui aplikasi pesan antar dan website. Promo juga berlaku selama persediaan masih ada.

Lara Djonggrang & La Bihzad Bar yang beralamat di Jalan Teuku Cik Di Tiro, Jakarta Pusat menawarkan menu pisang goreng Raja Dhalu gratis untuk pelanggan yang menggunakan hak suaranya.

Melalui instagram @lara_djonggrang, menu gratis ini hanya tersedia pada pukul 11.00 hingga 23.00 WIB. Pelanggan harus menunjukkan jari bertinta kepada kasir dan akan langsung mendapatkan pisang goreng gratis.

Bagi Anda yang menggunakan hak pilih pada 17 April mendatang, Anda akan mendapatkan harga spesial yaitu Rp 17.000 untuk pembelian Shirokoffee dan Bolognaise Spaghetti.

Promo ini berlaku selama persediaan masih ada dan belum termasuk biaya pajak dan service.

Tersedia teh tarik gratis di Teh Obeng Cafe bagi Anda yang menggunakan hak pilih pada 17 April mendatang. Anda cukup menunjukkan jari bertinta kepada kasir dan akan mendapatkan segelas teh tarik gratis.

Tersedia paket Black Sesame Pancake with Ice Cream dan Teh Tarik dengan harga Rp 17.888 bagi Anda pelanggan May Star Restaurant yang menggunakan hak pilih. Semula paket ini harganya mencapai Rp 72.000.

Anda cukup menunjukkan jari bertinta kepada kasir dan dapat menikmati menu paket ini. Promo ini tak berlaku untuk makanan yang dibawa pulang.

Yuk Jelajah Kuliner Bersama Accor

Perjalanan kuliner dihadirkan AccorHotels Indonesia melalui Culinary Journey dengan menampilkan sajian masakan hasil olahan para tim kuliner di lebih dari 120 restoran pada hotel-hotel Accor di Indonesia.

Bagaimana rasa nasi timbel, tempoyak durian, ikan patin, rendang atau nasi kuning sambel roa dihadirkan dalam hotel berbintang?

Itulah yang akan dihadirkan AccorHotels Indonesia dengan meluncurkan program Culinary Journey. Ini merupakan program kuliner yang hadir di lebih dari 120 resoran di hotel-hotel seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan Accor.

Selain makanan mancanegara, dalam program Culinary Journey dipilih 7 makanan khas daerah setempat untuk ditampilkan di hotel-hotel terutama yang berada di lokasi masing-masing. Ketujuh makanan lokal itu berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Lombok.

"Selain makanan internasional, tujuh kuliner khas Indonesia ini juga bisa dinikmati para tamu yang menginap di hotel kami," kata Gath Simmons, Chief Operating Officer Accor Indonesia Malaysia, Singapore and South Asia di Hotel Raffles, Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Sedangkan selama Ramadhan, Hotel Raffles Jakarta mengusung tema Turki di Arts Cafe dan Turkish Bazaar di pop-up restaurant.

Menurut Lisa Simo, selaku Regional Director Marketing, Loyalty & Communications Indonesia, khusus Ramadhan, Hotel Raffles Jakarta mendatangkan 2 chef tamu dari Raffles Istanbul yaitu Chef Umut dan Chef Bilal Keser.

"Kami hadirkan menu-menu andalan khas Turki diantaranya spiced Lamb Kebabs, Shawarma live station, Turkish pizzas, dan Turkish salad," kata Lisa.

Selain Hotel Raffles Jakarta, dalam mengisi Ramadhan tahun ini khusus Novotel dan Mercure yang berada di Jakarta dan Tangerang tak mau ketinggalan menyambut program Culinary Journey tersebut.

General Manager Mercure Jakarta Cikini, Lisa P Sanjoyo, saat jumpa pers di Hotel Mercure Jakarta Simatupang, Jumat (3/5/2019) mengatakan Novotel dan Mercure area Jakarta dan Tangerang sama-sama mengusung program Culinary Journey.

Menurut Lisa ada 10 properti Novotel dan Mercure untuk area Jakarta dan Tangerang. Ke-10 properti tersebut adalah: Mercure Convention Center (MCC) Ancol, Mercure Jakarta Cikini, Mercure Jakarta Kota, Mercure Jakarta Pantai Indah Kapuk, Mercure Jakarta Sabang, Mercure Jakarta Simatupang, Mercure Serpong Alam Sutera, Novotel Jakarta Gajah Mada, Novotel Jakarta Mangga Dua Square, dan Novotel Tangerang.

Pada kesempatan yang sama, General Manager Mercure Jakarta Sabang, Gunawan Widodo mengemukakan, selama ini Accor dikenal dengan akomodasi.

"Tujuan program Culinary Journey untuk meningkatkan F&B AccorHotels. Supaya AccorHotels dikenal F&B-nya," kata Gunawan.

Dalam rangkaian program Culinary Journey ini, Novotel Jakarta Gajah Mada, Novotel Jakarta Mangga Dua Square, dan Novotel Tangerang menawarkan Nasi Kabsa dan Arabic Mixed Grill.

Chef Adi dari Novotel Jakarta Mangga Dua Square menjelaskan, nasi kabsa merupakan menu populer di Timur Tengah yang terbuat dari nasi dan daging.

"Hampir sama dengan nasi biryani. Tapi nasi kabsa lebih ke Arab," kata Adi.

Friday, November 8, 2019

Arak-arak Bondowoso, Menikmati Pemandangan Indah Bareng Puluhan Monyet

Arak-arak Bondowoso yang penuh dengan monyet.

Berwisata ke daerah pegunungan memang cukup digemari banyak orang. Pemandangan indah yang tersaji dari ketinggian memang mampu membuat orang-orang penasaran dan tertarik untuk mengunjunginya.

Terlebih di era media sosial ini, beberapa pengelola obyek wisata turut menambahkan spot foto agar Instagramable dan menarik perhatian lebih banyak wisatawan. Terlebih jika sampai viral, maka akan ada banyak orang yang datang.

Bagi masyarakat Bondowoso dan sekitarnya, ada obyek wisata yang menawarkan pemandangan dari ketinggian. Salah satu obyek wisata semacam itu adalah Arak-arak Bondowoso.

Obyek wisata Arak-arak Bondowoso berada di Desa Sumbercanting, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Jarak dari pusat Kota Bondowoso adalah sekitar 21 kilometer dengan waktu tempuh kurang-lebih 35 menit.

Obyek wisata Arak-arak Bondowoso akan dilewati oleh pengemudi dengan tujuan Probolinggo-Bondowoso atau sebaliknya via Kecamatan Besuki. Nantinya obyek wisata ini akan ditemukan di kiri jalan jika dari arah barat.

Konsep Arak-arak Bondowoso adalah taman di tengah hutan kawasan pegunungan yang berada di sisi barat laut Kabupaten Bondowoso. Pengelola telah mempercantik taman ini agar cocok untuk berfoto dan menikmati suasana alam.

Beberapa fasilitas penunjang wisata yang telah ditambahkan di sini adalah gazebo untuk bersantai, rumah pohon, dan spot foto. Ada pula mushala, warung makan, hingga toilet.

Biasanya pengunjung yang datang gemar ber-selfie di rumah pohon atau spot foto yang telah disediakan. Khusus spot foto, latar belakang pemandangan dari ketinggian memang menggoda mereka untuk berfoto di sana.

Selain berfoto, menikmati panorama dari ketinggian juga merupakan aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung di sini. Mereka akan disuguhkan dengan pemandangan terbuka di sisi utara yang juga menampilkan pesisir utara Jawa Timur dari ketinggian.

Panorama khas yang bisa dinikmati dari Arak-arak Bondowoso lainnya adalah Air Terjun Lidah yang ada di sisi timur. Saat musim kemarau, aliran dan suara air terjun masih ada. Namun, alirannya tidak terlalu deras.

Akan tetapi, pengunjung tidak akan sendirian saat berwisata ke Arak-arak Bondowoso. Selain ada pengunjung lain, petugas pengelola, dan pedagang makanan atau minuman, mereka juga turut ditemani dengan puluhan monyet.

Para monyet memenuhi Arak-arak Bondowoso pada musim kemarau saat persediaan makanan di hutan menipis. Biasanya mereka akan menyantap sisa makanan yang dibuang pengunjung.

Oleh karena itu, pengunjung diharapkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sampah itu akan menarik para monyet sehingga mereka akan ketergantungan dan tidak bisa lagi hidup secara alami.

Para monyet juga kurang ramah. Jika didekati, mereka akan mengeluarkan suara seolah hendak menyerang. Meski demikian, mereka juga tidak berani untuk sampai mengambil atau mencuri barang para pengunjung.

Tiket masuk Arak-arak Bondowoso sangatlah murah. Pengunjung hanya membayar sebesar Rp 3.000 per orang untuk tiket masuk.

4 Alasan Liburan ke Museum Karst Wonogiri

Bagian dalam Museum Karst

Berada di Pracimantoro, sekitar 45 km dari kota Wonogiri, terdapat sebuah Museum yang jadi kebanggan kota Wonogiri yakni Museum Karst Indonesia.

Museum yang dibangun pada tahun 2008 ini, memiliki tujuan mengenalkan karst kepada para khalayak ramai.

Lantas, apa saja yang ada di Museum Karst Indonesia yang membuatnya pantas didatangi sebagai Wisata Edukasi? Berikut lima alasan liburan ke Museum Karst Wonogiri yang dihimpun KompasTravel .

Di Museum Karst, wisatawan bisa mengetahui batuan karst terbentuk, kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan karst sejak jaman dahulu, serta macam-macam gua hasil bentukan batuan karst yang ada di Indonesia.

Semua penjelasan tersebut dijelaskan melalui gambar-gambar yang terpasang.

Tak hanya penjelasan ragam karst yang terwujud dalam gambar. Museum Karst juga memiliki sarana audio visual.

Panel-panel LED yang terpasang menjelaskan tentang gambar dan miniatur yang ada. Panel-panel disajikan lebih menarik dan lebih mudah dipahami utamanya bagi anak-anak.

Ada banyak miniatur yang diletakkan dalam kotak kaca. Miniatur-miniatur tersebut menjelaskan kepada pengunjung secara lebih detil mengenai batuan karst.

Terdapat pula beberapa replika peninggalan masyarakat gua jaman dahulu, berupa lukisan tangan di dinding gua, patung-patung yang menggambarkan masyarakat gua beserta replika guanya.

Semua lengkap, seolah pengunjung sengaja dibawa untuk merasakan kehidupan era lampau.

5 Kuliner Khas yang Wajib Kamu Coba saat Mampir di Cirebon

Empal Gentong

Hari ini sebagian masyarakat Indonesia masih menikmati sisa libur lebaran, mungkin salah satunya Anda. Untuk mengisi sisa libur lebaran, wisata kuliner bisa jadi salah satu pilihan kegiatan yang menarik.

Bagi kamu yang tengah berada di Cirebon, banyak makanan khas yang wajib dicoba. Berikut rekomendasi dari KompasTravel.

Empal gentong menjadi salah satu masakan khas Cirebon yang paling populer. Makanan ini mirip dengan gulai dan dimasak menggunakan kayu bakar di dalam entong. Daging yang digunakan adalah usus, babat, dan daging sapi.

Di Cirebon kamu dapat dengan mudah menjumpai warung makan yang menjajakan empal gentong. Salah satunya di warung Mang Darma yang terletak di Jalan Slamet Riyadi nomor 1, Cirebon.

Jika Empal Gentong identik dengan menu masakan bersantan, maka empal asam merupakan pilihan menu empal tanpa santan yang bercita rasa segar.

Isian utama dalam menu ini adalah daging sapi, walaupun kamu dapat juga memilih isi babat, usus dan kikil.

Sesuai dengan namanya, empal asam ini begitu segar saat kuahnya disruput. Namun, asam yang terasa cenderung ringan tidak seperti sayur asam.

Mungkin ini karena asam yang dihasilkan dari belimbing wuluh, bukan asam jawa, juga rempah yang tetap membalut rasanya.

Menu Nasi Lengko terdiri dari nasi putih, tempe goreng, tahu goreng, mentimun mentah segar dan dicacah, tauge rebus, daun kucai, bawang goreng, bumbu kacang, dan kecap manis.

Kamu dapat menemukan menu ini di Kedai Nasi Lengko Pagongan H. Barno yang terletak di Jalan Pagongan nomor 15 B, Cirebon.

Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi. Sedangkan penyajian makanannya menggunakan sistem prasmanan.

Untuk menikmati nasi jamblang, kamu dapat mengunjungi kedai Nasi Jamblang Ibu Nur yang terletak di Jalan Cengkaring nomor 45.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki sajian khas berbahan dasar mi. Namun berbeda dengan sajian mi di daerah lain, kuah mi koclok ini berwarna putih kental yang sangat nikmat disantap hangat-hangat di malam hari. Warna putih ini berasal dari campuran santan dan tepung maizena.

Tak hanya kuahnya, isian mi koclok pun mengundang selera, terdiri dari potongan telur rebus, ayam suwir, dan irisan toge, kol, serta daun bawang.

Jadi, jangan bingung lagi kalau kamu berwisata kuliner di Cirebon.

Thursday, November 7, 2019

Beberapa Situs Atraksi di Jepang Melarang Turis Rombongan, Mengapa?

Turis memenuhi area penyelenggaraan Sapporo Snow Festival ke-70 di Odori Park, Kota Sapporo, Prefektur Hokkaido, Jepang, Senin (11/2/2019). Sapporo Snow Festival merupakan acara musim dingin tahunan yang digelar di Kota Sapporo.

Beberapa obyek wisata atau situs populer di Jepang melarang kunjungan wisatawan rombongan. Koran lokal Jepang, Asahi Shimbun, menyebutkan hal ini disebabkan perilaku turis yang menyalahi aturan selama berwisata.

Contohnya adalah sebuah kuil Sasaguri Nanzo-in di Fukuoka yang kewalahan menerima kedatangan turis mancanegara dalam jumlah besar selama satu dekade.

Biksu kepala Kakujo Hayashi mengatakan ada 20-30 bus yang membawa penumpang kapal pesiar, berukunjung ke kuil tersebut dan menganggu ketenangan kuil yang sejatinya tempat peribadatan.

Turis menyetel musik dalam suara keras, bermain di air terjun keramat tempat untuk biksu berdoa, sampai memanjat ke atap kuil.

Lantaran hal tersebut, pihak kuil menutup kunjungan untuk turis rombongan mancanegara dan lokal. Namun masih menerima kunjungan turis lokal maupun mancanegara individu.

Selain Sasaguri Nanzo-in, ada juga kuil Yatsushiro-gu di Prefektur Kumamoto yang menutup kunjungan sejenak, setelah kunjungan kapal pesiar di pelabuhan terdekat melonjak enam kali lipat pada 2017.

Bukan hanya kapal persiar, seorang pemilik bar di Kyoto juga menutup kunjungan dari turis rombongan yang terdiri dari lebih dari lima orang. Pemilik bar tersebut mengatakan banyak turis membawa makanan dari luar bar dan menggunakan piring makan sebagai asbak.

Pariwisata massal di Jepang bukan hanya melahirkan masalah baru tetapi juga kata baru. Ungkapan 'kanko kogai' disematkan untuk artian 'polusi pariwisata'.

Untuk mengatasi masalah pariwisata massal, pemerintah Jepang memberi kebijakan pajak pulang 'sayonara tax' untuk mengembangkan infrastruktur yang berguna untuk masyarakat.

Japan National Tourism Organization (JNTO) kian rajin mempromosikan daerah-daerah yang masih belum banyak dieksplor turis, menghindari pariwisata massal di satu daerah. Petunjuk akan pariwisata juga semakin diperbanyak dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Selama tujuh tahun berturut-turut kunjungan wisatawan ke Jepang terus meningkat. Data terakhir pada 2018 ada 31,2 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Negeri Sakura. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat pada 2019 dengan diselenggarakannya Rugby World Cup dan Olimpiade Tokyo pada 2020.

Ide Ngabuburit: Menikmati Sore di Candi Plaosan Lor, Klaten

Keindahan Matahari Terbenam di Candi Plaosan Lor, Klaten.

Bulan Ramadhan identik dengan aktivitas ngabuburit. Biasanya orang-orang akan keluar rumah untuk menghabiskan waktu sore sekaligus menanti waktu berbuka puasa.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk ngabuburit, seperti mengikui kajian di masjid-masjid, berbelanja makanan untuk buka puasa, olahraga, hingga menyaksikan keindahan sore.

Bagi masyarakat Klaten khususnya sekitar Prambanan ada satu aktivitas ngabuburit yang bisa dilakukan. Aktivitas tersebut adalah menikmati keindahan sore di Candi Plaosan Lor.

Lokasi Candi Plaosan Lor tepatnya berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi Plaosan Lor berada sekitar 1,5 kilometer di sebelah timur Candi Prambanan.

Meski tidak berada di tempat yang tinggi seperti Candi Ijo, keindahan matahari terbenam di sore hari tetap bisa disaksikan dari Candi Plaosan Lor. Tentu keindahan itu hanya bisa disaksikan ketika cuaca cerah.

Pengunjung bisa menikmati keindahan matahari terbenam dari dalam kompleks Candi Plaosan Lor atau dari luar. Pesona matahari terbenam dari dalam maupun luar kompleks candi sama-sama tampak indah.

Candi Plaosan Lor menghadap ke arah barat. Hal itu juga menjadikan matahari sore sebagai cahaya alami yang membuat bangunan candi semakin menawan. Pengunjung biasanya berfoto dengan latar belakang candi yang bermandikan cahaya matahari sore.

Saat momen sunset tiba, pesona keindahannya bisa disaksikan dengan latar depan arsitektur candi. Latar depan tersebut biasanya menjadi siluet yang menjadikan hasil jepretan semakin menawan.

Setelah momen sunset, biasanya Candi Plaosan Lor akan tutup. Petugas keamanan akan berkeliling dan meminta pengunjung untuk keluar meninggalkan kompleks candi.

Keindahan matahari terbenam ternyata juga bisa disaksikan dari luar kompleks Candi Plaosan Lor. Jika hendak menikmati keindahan sunset, maka sisi timur candi merupakan spot yang bagus.

Masyarakat setempat telah menghias jalan desa agar pas untuk digunakan berfoto. Beberapa ornamen juga ditambahkan dengan latar belakang barisan Candi Plaosan Lor yang menjadikannya sebagai spot foto favorit.

Pengunjung juga bisa berfoto di tengah hamparan sawah dengan latar belakang arsitektur candi. Saat momen matahari terbenam, latar belakang akan semakin terlihat menawan.

Namun karena backlight, kemungkinan besar hasil objek foto akan terlihat seperti siluet. Perlu pengaturan khusus pada kamera dengan sedikit edit agar objek foto tetap terlihat berdampingan dengan latar belakang matahari terbenam.

Masyarakat setempat juga telah membangun pusat kuliner. Jika sudah terdengar adzan maghrib, pengunjung bisa membatalkan puasa di sana. Selain itu, tersedia pula mushala dan masjid yang tidak jauh dari Candi Plaosan Lor untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.

Tuesday, November 5, 2019

5 Obyek Wisata Instagramable di Purwokerto, Cocok Buat Liburan

Situasi Lokawisata Baturaden di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (15/3/2014), masih dipadati wisatawan. Aktivitas wisata di sekitar lereng Gunung Slamet masih normal kendati status gunung tertinggi di Jawa Tengah itu ditetapkan Waspada (level II). Pengelola masih membuka obyek wisata karena obyek wisata tersebut berada di luar kawasan radius bahaya.


Berada di jalur mudik Pantai Selatan Jawa, Purwokerto memiliki udara sejuk dan sejumlah destinasi wisata instagrameble yang cocok dijadikan bahan unggahan ke media sosial atau sekadar mengabadikan momen bersama keluarga.

Berikut KompasTravel menghimpun 5 obyek wisata instagrameble di Purwokerto, Jawa Tengah berdasarkan rekomendasi destinasi wisata mudik oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar).


Kamu bisa menyaksikan keindahan alami kota Purwokerto dari Baturaden sekaligus menyaksikan Pulau Nusa Kambangan dan berbagai pantai indah yang terdapat di daerah Cilacap dari ketinggian.

Di dalam kawasan Baturaden, berbagai destinasi wisata alam tersebar di sejumlah titik, sebut saja Telaga Sunyi, Pancuran Pitu dan Pancuran Telu, Taman Kaloka Widya Mandala, dan Teater alam, semuanya cocok dijadikan latar belakang foto Kamu.

Lokasi Baturaden berada di sebelah selatan lereng Gunung Slamet, bisa dijangkau menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum dengan harga tiket masuk sekitaran Rp 14,000 per orang.

Seperti namanya, pengelola tempat rekreasi ini menyuguhkan sejumlah miniatur bangunan megah terpopuler di dunia seperti Menara Pizza, Twin Tower Malaysia, Big Bang, Colloseum, Patung Merlion Singapura, Kincir Angin Raksasa Belanda, dan lain sebagainya.

Lokasinya berada di Jalan Baturaden km 25 nomor 270 Ketenger. Jika ingin singgah ke obyek wisata ini, ikuti rute menuju kawasan wisata Baturaden.

Harga tiket masuk miniatur dunia Purwokerto ini sebesar Rp 15.000 per orang saat hari biasa, dan Rp 20.000 ketika akhir pekan atau tanggal merah.

Beralamati di Jalan Raya Baturaden km 07, Rempoah, Baturaden, The Village memiliki sejumlah bangunan dengan desain eksterior yang sangat megah dan elegan layaknya Eropa.

Kamu bisa berkeliling sambil berburu foto sebagai bahan unggahan di media sosial. Tak hanya itu, suasananya yang sejuk beserta pepohonan hijau menambah kesan alami di The Village ini.

Harga tiket masuk The Village Purwokerto ini bisa dibilang terjangkau, pengunjung hanya dikenakan Rp 10.000 per orang selama hari biasa, dan Rp 18.000 ketika libur dan tanggal merah.

Alun-Alun Purwokerto yang berada di Jalan Jenderal Soedirman tersebut air mancur indah di sebelah barat laut dan timur alun-alun, membelakangi tulisan "Purwokerto".

Saat malam hari, air mancur tersebut akan tampah memancarkan berbagai warna secara bergantian karena pengelola Alun-Alun memasangkan lampu lighting khusus.

Kamu bisa menjumpai air mancur ini kapan saja karena alun-alun buka setiap hari.

Salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Slamet, tepatnya di Dusun II Ketenger, Baturaden, Purwokerto ini memiliki udara yang sejuk dan menyegarkan secara alami.

Kamu juga bisa menikmati menyusuri berbagai hiburan kesenian seperti berkeliling menyusuri situs peninggalan sejarah yang ada, seperti rel lori dan waduk Ketenger yang merupakan peninggalan jaman penjajahan.

Lokasinya berada di Dusun II Ketenger, Ketenger, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.